Selasa, 10 November 2009

membaca asmaul husna setiap hari

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang membaca: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan. Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu. Barang siapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya”, sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. (Shahih Muslim No.4857)

Rabu, 04 November 2009

PENDIDIKAN BERAWAL DARI KELUARGA

Keteladanan Berawal dari Keluarga

Anak adalah nikmat dan pemberian Allah SWT yang tak ternilai harganya. Anak ini merupakan amanah bagi kedua orangtuanya untuk kemudian dipertanggung-jawabkan. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengingatkan kepada kita tentang besarnya tanggung jawab mendidik anak, "Barangsiapa yang melalaikan pendidikan anak dengan tidak mengajarkannya hal-hal yang bermanfaat, membiarkan mereka terlantar, maka sungguh dia telah berbuat sangat buruk. Sebagian besar anak yang jatuh ke dalam kerusakan tidak lain karena kesalahan orangtua yang tidak memperhatikan anak-anaknya dan tidak mengajarkan mereka kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Sejak kecil mereka ditelantarkan sehingga kelak mereka tidak dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orangtuanya."

Telah lama disadari bahwa keluarga merupakan pihak yang memiliki pengaruh paling besar terhadap perkembangan anak pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Keluarga juga kerap diidentikkan sebagai tempat atau lembaga pengasuhan yang dapat memberi kasih sayang. Keluarga merupakan sumber utama dari sekian sumber-sumber pendidikan nalar seorang anak, dimana ia akan menemukan tata nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Keluarga merupakan unsur terpenting dalam pembentukan kepribadian anak melalui proses perkenalan dan interaksi antara dirinya dengan anggota keluarga di sekitarnya.

***

Keteladanan Orangtua

Pengelola Yayasan Buah Hati, Neno Warisman, mengungkapkan bahwa agama merupakan elemen dasar perkembangan anak. Harus dipahami pula bahwa untuk mengajarkan agama pada tingkat dini dibutuhkan banyak metode. "Orangtua harus sedapat mungkin aktif menggali informasi serta menerapkan metode pengajaran agama yang sudah teruji. Dalam mengajarkan sesuatu kepada anak, kita harus menyertakan hati, telinga, dan mata. Orangtua harus memberikan contoh yang nyata, bukan sekadar nasihat atau perintah. Anak-anak memerlukan keteladanan agar nilai yang hendak disampaikan menjadi lebih bermakna," ungkap Neno.

Membiasakan anak sejak usia dini untuk mengetahui dan melaksanakan berbagai aktivitas keagamaan tidak dapat dilakukan tanpa memperhatikan kenyamanan emosi, fisik, dan spiritual anak. Menurut Neno, jika orangtua dapat memfasilitasi ketiganya, maka proses pembelajaran agama akan berjalan dengan baik.

Praktisi pendidikan anak, Seto Mulyadi, menganggap bahwa peran keluarga sangat penting dalam membina akhlak dan mental anak. Kak Seto, demikian ia akrab dipanggil, menekankan agar orangtua memperhatikan metode dan cara yang tepat dalam memberikan pembelajaran agama kepada anak. Hal ini akan menentukan berhasil tidaknya upaya pendidikan.

"Dari semua hal yang perlu diajarkan, keteladanan orangtua adalah yang paling utama. Anak-anak akan mudah meniru apa pun yang dilihatnya. Jadi, ketika orangtua menerapkan perilaku terpuji dan bertutur kata yang halus, itu sudah merupakan permulaan pendidikan agama kepada anak-anak," tegas Seto.

Penyampaian nilai-nilai agama sebaiknya dilakukan dalam suasana yang 'berpihak' pada anak. "Jangan ada tekanan, paksaan, atau emosi dari orangtua kepada anak-anaknya. Sebaliknya, jika suasana hangat tercipta, maka anak pun akan mengikuti apa-apa yang disampaikan kepada mereka," tambahnya.

Dalam proses pendidikan, kontinuitas dan kualitas komunikasi antara orangtua dan anak harus dijaga. Seto mengingatkan agar orangtua memiliki kepekaan untuk dapat memahami kegelisahan, keinginan, maupun kegembiraan anak dengan menjadi pendengar yang baik. Di sinilah kemudian oangtua membimbing dan sekaligus menyisipkan jaran agama dalam tingkatan yang mudah dipahami nak. "Melalui cara yang halus dan lembut penuh kasih sayang, saya kira nilai-nilai ajaran agama bisa lebih mengena pada anak."

***

Visi dan Misi Keluarga

Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, keluarga harus memiliki visi dan misi. Penentuan visi dan misi hendaknya dilandasi oleh pemahaman mendalam pada ajaran Al-Qur'an dan hadits. Dengan bercermin pada keluarga Rasulullah SAW, kita dapat memetik pelajaran berharga tentang fungsi sebuah organisasi keluarga.

Keluarga merupakan wadah penguatan ruhiyah melalui keteladanan dalam ibadah. Keluarga juga sangat besar pengaruhnya terhadap pengembangan potensi intelektual, spiritual, maupun emosional. Melalui proses berkeluarga, ketiga potensi ini akan mengalami pematangan, percepatan, teruji efektivitas dan efisiensi dalam sinergisitasnya.

Pendek kata, orangtua adalah pelopor dalam memberikan pemahaman tentang ilmu agama kepada anak-anak mereka. Keteladanan yang muncul adalah bentuk dakwah paling efektif untuk membuat anak terpesona dengan akhlak yang dicontohkan oleh orangtuanya. Dengan demikian, proses pembelajaran, penerapan, dan dakwah memang semestinya berawal secara alamiah di dalam lingkup keluarga.

Selasa, 03 November 2009

GAGASAN , DASAR - DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN


Gagasan , Dasar Dasar Dan Tujuan Pendidikan


Gagasan

Kihajar Deantara berpendapat pendidikan (termasuk pengajaran) untuk tiap tiap bangsa berarti pemeliharaan guna mengembangkan benih turunan dari bangsa itu, agar dapat berkembang dengan sehat lahir dan batin. Untuk itu manusia individu harus dikembangkan jiwa raganya dengan mempergunakan segala alat pendidikan yang berdasarkan adapt istiadat rakyat. Ia menilai bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh colonial Belanda tidak sesuai dengan tuntunan konsep diatas,karena tidak berdasarkan kebutuhan rakyat Indonesia. Pendidikan yang diselenggarakan hanya cocok untuk colonial saja, tidak disesuaikan dengan jiwa raga bangsa Indonesia. Selanjutnya ia menganggap pendidikan yang diselenggarakan colonial tidak dapat memupuk dan menjamin perikehidupan bersama, membuat selalu bergantung pada penjajah, tidak menjadikan manusia yang merdeka. Untuk mengubah keadaan ini tidak akan lenyap jika hanya perlawanan politik saja, melainkan harus juga dipentingkan penyebaran hidup merdeka dikalangan rakyat dengan cara pengajaran yang disertai pendidikan nasional. Pendidikan nasional yang dimaksud adalah suatu sistem pendidikan yang berdasarkan atas kebudayaan kita sendiri dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Dalam pada itu “intelktualisme” harus dijauhi dan harus menerapkan sistem mengajar yang dinamai sistem Among yang menyokong kodrat anak didik bukan dengan “perintah-paksaan”, tetapi dengan tuntunan berkembanglah hidup lahir batin anak menurut kodratnya sendiri dengan subur dan selamat . dalam sistem Among ini dikemukakan dua dasar pokok, yaitu (1) Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan mengerakkan kekuatan lahir dan batin hingga dapat hidup merdeka (dapat berdiri sendiri) (2) kodrat alam, sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Untuk dapat mempraktikan pendidikan nasional itu haruslah ada kemerdekaan seluas-luasnya. Karena itu janganlah suka menerima bantuan yang dapat mengikat diri , sedangkan untuk dapat berdiri langsung haruslah dijalankan “cara berbelanja sendiri” dengan bersendi atas “kekuatan sendiri” (prinsip non-cooperation dan prinsip self help. Selain dari pada itu pengajaran harustersebar di kalangan rakyat yang terbanyak, janganlah hanya dierikan kepada lapisan yang tertinggi saja. Kekuatan bangsa tidak akan berkembang, jika kam elite saja yang merupakan kaum terpelajar (prinsip demokrasi)i

Dasar pendidikan Dasar

atas segala azas untuk segala usaha Taman Siswa baik mengenai pendidikan atau pengajaran, maupun yang berhubungan dengan organisasi maupun adat istiadat dalam hidup ke-tamansiswa-an” adalah azas 1922, dan dasar-dasar 1947. Azas ini merupakan azas perjuangan untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan sifatnya yang nasional dan demokratis. Azas ini nanti akan tetap hidup sebagai sifat-sifat yang hakiki dari Taman Siswa ,yang tak dapat diubah, dikurangi atau ditambah selama Taman Siswa dipakai.
Azas ini diumukan dan disahkan oleh Kongres Taman Siswa yang pertama di Yogya karta yang bertepatan dengan berdirinya Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 tersebut adalah (1) setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri engan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum. Dan tujuannya adalah mendapatkan tertib dan damai. Perlu sekali orang dapat tumbuh menurut kodrat (bakat) tanpa adanya paksaan berupa apapun juga, sebab tiap paksaan merupakan perkosaanterhadap hidup kebatinan anak. Alat pendidikan pemerintah dan hukuman dalam ketertiban ditiadakan pendidikan wajib menjaga anak didik dengan suka cita agar anak didik berkembang sesuai dengan kodratnya. Inilah yang disebut sistem among, yaitu sebagai pimpinan berdiridi belakang dengan semboyan tut wuri handayani , yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri, dan tidak harus terus menerus mencampuri, diperintah atau dipaksa. Pamong hanya wajib menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi jalannya anak serta hanya bertindak aktif serta mencampuri tingkahlaku atau perbuatan anak apabila mereka sendiri tidak mampu menghindarkan diri dari berbagai rintangan atau ancaman keselamatan atau gerak majunya. (2) bahwa pengajaran harus membimbing anak menjadi manusia merdeka dalam cipta, rasa dan karsadan dalam menggunakan tenagannya.disamping memberikan pengetahuan yang perlu dan bermanfaat guna kemerdekaan hidup lahir dan batin dalam masyarakat , guru harus mencari para siswa mencari dan menggunakan pengetahuan itu. Dalam azas ini masih menggunakan pengetahuan lebih lanjutdari azas kemerdekaan di atas, yakni dengan memberi ketegasan kemerdekaan itu hendaknya dikenakan terhadap cara siswa berpikir, yaitu agar siswa jangan terlalu dicekcoki atai disuruh menerima buah pikiran orang lain saja, melainkan hendaknya para siswa disuruh mencari atau menemukan sendiri berbagai nilai, keterampilan dan pengetahuan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri. Untuk menyiapkan agar anak kelak betul-betul merdeka lahir batin , hendaknya dilakukan dengan cara memerdekakan batinnya., pikiran dan tenagannya . (3) Bahwa pendidikan harus didasarkan atas kebudayaan bangsa Indonesia sendiri agar kelak anak tidak terpisah dari bangsanya dengan ajaran ini taman siswa ingin mencegah sistem pengajaran yang bersifat intelektualistik dan pola hidup yang kebarat-baratan yang dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat jelata pada umumnya. (4) bahwa pengajaran harus meliputi bagian rakyat yang terbesar, sebab kekuasaan bangsa dan negara adalah paduan kekuatan warganya. Dari azas ini jelas bahwa pendirian Taman Siswa yaitu lebih baik mengajukan pengajaran untuk rakyat umumdaripada mempertinggi pengajaran tetapi mengurangi tersebarnya pendidikan dan pengajaran, dengan kata lain Taman siswa lebih mementingkan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum. (5) bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir dan batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun dan dari siapapun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun batin. Dengan azas “hidup dengan kekuatan sendiri” inilah mengapa Taman Siswa mampu mempertahankan kepribadiannya sepanjang masa (dalam masa penjajahan maupun dalam masa emerdekaan sekarang ini). (6) Bahwa karena tiap usaha berdasarkan atas kekuatan sendiri , maka segala sesuatu haruslah hemat dan segala sesuatu ditutup dengan uang dari pendapatan sendiri pula. Itulah “sistem hidup di atas kaki sendiri” dari azasitu tersirat keharusan untuk hidup sederhana dan hemat. (7) bahwa dalam memdidik harus menyerahkan diri untuk menghamba pada sang anak dengan tanpa meminta suatu hak dan bebas dari segala ikatan. Dengan hati yang suci ia wajib bekerja untuk kepentingan anak. Azas berhamba kepada anak ini menunjukkan hasrat Taman Siswa untuk menampilkan dalam arti yang semurni-murninya sebagai pendidik anak, pendidik yang bekerja tanpa pamrih, ikhlas, penuh pengorbanan, demi kebahagiaan anak semata. Kualifikasi pendidik yang seperti inilah yang pantas berhak memiliki sebutan pamongatau istilah sekarang “pahlawan tanpa tanda jasa”

Dasar-dasar 1947
Setelah bangsa indonesia memproklamasikannya pada tangga 17 Agustus 1945 Taman Siswa meninjau kembali semua peraturannya untuk disesuaikan dengan situasi baru. Pemerintah tidak lagi berjuang melawan pemerintah kolonialdan tidak perlu lagi berjuang melawan kolonial, serta tidak perlu lagi bersikap non-cooperation. Dengan perjuangan 1922, Taman Siswa merasa mencapai apa yang dituju. Karena kini indonesia telah merdeka, Taman siswa harus bekerjasama dan membantu usaha-usaha pemerintah Republik Indonesia dalam hendak memajukan dan mencerdaskan bangsa. Maka dibentuklah panitia “ Mangunsarkoro” untuk tujuan tersebut dan hasilnya adalah 5 azas, yang disebut “Dasar-dasar 1947” atau Panca Dharma. Dasar-dasar 1947 ini sama sekali tidak bertentangan dengan azas 1922dan tidak pula mengubah inti isinya. Adapun Dasar-dasar 1947 tersebut adalah (1) Azas kemerdekaan, harus diartikan disiplin pada diri sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggii, baik sebagai hidup individu maupun sebagai hidup masyarakat. Maka dari itu kemerdekaan menjadi alat mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suatu perimbangan dan keselarasan dengan masyarakat tertib damai di tempat keanggotaannya, (2) azas kodrat alam, bahwa pada hakekatnya manusia itu sebagai mahluk adalah satu dengan kodrat alam ini. Ia tidak bisa lepas dari kehendaknya. Tetapi akan merasakan bahagia apabila dapat menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung kemajuan yang dapat digambarkan bertumbuhnya tip-tiap benih suatu pohon yang kemudian berkembang menjadi besar dan akhirnya berbuah setelah menebarkn benih yang baru kemudian mengakhiri hidupnya, dengan keyakinan darmanya akan dibawa hidup terus dengan tumbuhny lagi benih-benih yang disebarkan., (3) Azas kebudayaan, tidak berarti asal memelihara kebudayaan, kebangsaan, tetapi pertama-tama membawa kebudayaan kebangsaan itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia, dan kepentingan hidup rakyat lahir batintiap-tiap jaman dan keadaan, (4) Azas Kebangsaan, yang berarti tidak boleh bertentangan dengn kemanusiaan ,malahan harus menjadi fiil (perbuatan) kemanusiaan yang nyata dan oleh karena itu tidak mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain. Melainkan mengandung rasa satu dengan bangsa sendiri, rasa satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam kehendak menuju kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa, dan (5) Azas Kemanusiaan, menyatakan bahwa dharma tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang berarti kemajuan manusia itu lahir dan batin yang setinggi-tingginya, dan juga bahwa kemajuan kemanusiaan yang tinggi itu dapat dilihat pada kesucian hati orang dan adanya rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap mahluk Tuhan seluruhnya, tetapi tidak bersifat kelembekan hati, melainkan bersifat keyakinan akan adanya hukum kemajuan yang meliputi alam semesta. Karena dasar cinta kasih kemanusiaan itu harus tampak pula sebagai kesimpulan untuk berjuang melawan segala sesuatu yang merintangi kemanjuan selaras dengan kehendak alam. Dari azas 1922 dan dasar-dasar 1947 Taman Siswa di ats jelas tersurat dan tersirat bagi Taman Siswa untuk harus melaksanakan sistem among dengan semboyan Tut Wuri Handayani di dalam sistem pendidikan dan pengajaran. Sistem among ini juga telah mendapat sambutan baik dari Drs. RMP.Sostrokartono (kakak RA. Kartini)seorang filsuf dan ahli bahasa, bahkan semboyan ini ditambahnya , yaitu Ing Ngarso sung tulada (di dapan memberi contoh) dan Ing madya Mangun Karsa menghendaki diterapkan dimana pada situasi agak ragu-ragu untuk bergerak dan kurang bergairah dalam mengerjakan suatu. Dalam situasi demikian pendidik perlu memacu dengan jalan mendorong atau membangkitakan keinginannya untuk terus maju sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak-anak masing-masing. Tambahan kedua semboyan tersebut di dasarkan pada pertimbangan teknis semata, yaitu mengingat adanyaa perbedaan individual di antara para siswa. Dengankata lain semboyan-semboyan tersebut hakikatnya sama dengan caramemandang dan menyikapi anak,sama-sama tidak ada unsur perintah, paksaan dan hukuman, dan tidak pula adanya campur tangan dari pihak pendidik yang dapat mengurangi kebebasan anak untuk berjalan sendiri dengan kekuatan sendiri.

Tujuan Pendidikan

Pada jaman penjajahan Belanda dan tujuan Pendidikan Nasional Taman Siswa bersifat politik, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Sedangkan tujuan murni pendidikan yang diinginkan Taman Siswa yang termuat dalam Peraturan Besar taman Siswa bab IV pasal 13 adalah : membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Dan tujuan tertinggi Taman Siswa adalah terwujudnya masyrakat tertib dan damai.

PERANAN PENDIDIKAN


PERANAN PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN

Di muka telah diuraikan bahwa pendidikan mempunyai peranan dalam meningkatkan kualitas manusia sebagai sumberdaya pembangunan dan menjadi titik sentral pembangunan. Manusia yang berkualitas me¬miliki keseimbangan antara tiga aspek yang ada padanya, yaitu aspek pribadi sebagai individu, aspek sosial dan aspek kebangsaan. Manusia sebagai makhluk individu memiliki potensi fisik dan nirfisik; dengan potensi potensi tersebut manusia mampu berkarya dan berbudi pekerti luhur. Manusia sebagai makhluk soslaJ mempunyai kesetiakawanan sosial, tanggung jawab sosial dan disiplin sosial. Manusia yang memiliki aspek kebangsaan mernpunyai rasa cinta tanah air, jiwa patriotik dan berwawasan masa depan.
Berorientasi pada peningkatan kualitas manusia Indonesia tersebut, maka peranan pendidikan dalam pembangunan dapat dirumuskan sebagai berikut :
Dalam meningkatkan manusia sebagai makhluk individu yang berpotensi fisik dan nirfisik, dilaksanakan dengan pemberian pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Pembentukan nilai adalah nilai-nilai budaya bangsa dan juga nilai-nilai keagamaan sesuai dengan agama masing-masing dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Proses transformasi tersebut berlangsung dalam jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. John Vaizei dalam bukunya Education in the Modern World (1965) mengemukakan peranan pendidikan sebagai berikut : (1) melalui lembaga mengemukakan peranan pendidikan tinggi dan lembaga riset memberikan gagasan-gagasan dan teknik baru, (2) melalui sekolah dan latihan-latihan mempersiapkan tenaga kerja terampil berpengetahuan, dan (3) penanaman sikap.
Dalam menghadapi perubahan masyarakat yang terus menerus dan berjalan secara cepat manusia dituntut untuk selalu belajar dan adaptasi dengan perkembangan masyarakat sesuai dengan zamannya. Dengan perkataan lain manusia akan menjadi ”pelajar seumur hidup”. Untuk itu sekolah berperan untuk mepersiapkan peserta didiknya menjadi pelajar seumur hidup yang mampu belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang ada di sekolah maupun di luar sekolah. Menurut Moedjiono dalam buku dasar-dasar Kependidikan (1986), mengemukakan bahwa aktivitas belajar dalam rangka menghadapi perubahan-perubahan yang cepat di dalam masyarakat menghendaki (1) kemampuan untuk mendapatkan informasi, (2) keterampilan kognitif yang tinggi, (3) kemampuan menggunakan strategi dalam memecahkan masalah, (4) kemampuan menentukan tujuan yang ingin dicapai, (5) mengevaluasi hasil belajar sendiri, (6) adanya motivasi untuk belajar, dan (7) adanya pemahaman diri sendiri.
Eksistensi kebangsaan nasional perlu dipertahankan dengan berbagai cara antara lain memupuk identitas nasional pada generasi muda, penanaman kesadaran nasional. Kesadaran nasional perlu dibangkitkan melalui kesadaran sejarah. Kesadaran ini mencakup pengalaman kolektif di masa lampau atau nasib bersama di masa lampau yang menggembleng nation. Tanpa kesadaran sejarah tak ada identitas dan tanpa orang tak kepribadian atau kepribadian nasional. Kesadarari nasional, menciptakan inspirasi dan aspirasi nasional, keduanya penting untuk membangkitkan semangat nasional. Nasionalisme sebagai ideologi perlu menjiwai setiap warga negara yang wajib secara moral (moral com-mitment) dengan loyalitas penuh pengabdian diri kepada kepentingan negara, (Kartidirdjo, 1993).
Prinsip nasionalisme sebagaian tujuan pendidikan nasional adalah : (1) Unity (kesatuan persatuan) lewat proses integrasi dalam sejarah berdasarkan solidaritas nasional yang melampaui solidaritas lokal, etnis, tradisional, (2) Libcrty (kebebasan) setiap individu dilindungi hak-hak azasinya, kebebasan berpendapat, berkelompok, kebebasan dihayati dengan penuh tanggung jawab sosial, (3) Equality (persamaan) hak dan kewajiban, persamaan kesempatan, (4) Berkaitan dengan prinsip ke 2, ke 3 ada prinsip kepribadian atau individualitas. Pribadi perorangan dilindungi hukum antara lain dalam hak milik, kontrak, pembebasan dari ikatan komunal dan primoriaL (5) Performance (hasil kerja) baik secara individual atau kolektif. Setiap kelompok membutuhkan rang¬sangan dan inspirasi untuk memacu prestasi yang dapat dibanggakan.
Dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan mem¬punyai peranan penting dalam pembudayaan, pernyatan dan peng¬amalan nilai nilai budaya nasional yang akan mampu memupuk per¬satuan dan kesatuan bangsa.

Senin, 02 November 2009

Pendidikan Teknologi Informasi


Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan


Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan teknologi informasi, sekolah-sekolah di Indonesia sudah waktunya mengembangkan Sistem Informasi manajemennya agar mampu mengikuti perubahan jaman.

SISKO mampu memberikan kemudahan pihak pengelola menjalankan kegiatannya dan meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas sekolah dimata siswa, orang tua siswa, dan masyakat umumnya.Penerapan teknologi informasi untuk menunjang proses pendidikan telah menjadi kebutuhan bagi lembaga pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan teknologi informasi ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi manajemen pendidikan. Keberhasilan dalam peningkatan efisiensi dan produktivitas bagi manajemen pendidikan akan ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain menunda penerapan teknologi informasi dalam lembaga pendidikan berarti menunda kelancaran pendidikan dalam menghadapi persaingan global.

Pemanfaatan teknologi informasi diperuntukkan bagi peningkatan kinerja lembaga pendidikan dalam upayanya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Guru dan pengurus sekolah tidak lagi disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan operasional, yang sesungguhnya dapat digantikan oleh komputer. Dengan demikian dapat memberikan keuntungan dalam efisien waktu dan tenaga.

Penghematan waktu dan kecepatan penyajian informasi akibat penerapan teknologi informasi tersebut akan memberikan kesempatan kepada guru dan pengurus sekolah untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan pembinaan kepada siswa. Dengan demikian siswa akan merasa lebih dimanusiakan dalam upaya mengembangkan kepribadian dan pengetahuannya.

Sebagai contoh yang paling utama adalah sistem penjadwalan yang harus dilakukan setiap awal semester. Biasanya membutuhkan waktu lama untuk menyusun penjadwalan, Dengan SISKO dapat selesai dalam waktu singkat. Untuk mempermudah bagian administrasi kurikulum sekolah, SISKO menyediakan fasilitas istimewa yang merupakan inti dari sistem kurikulum sekolah yaitu membantu dalam pembuatan penjadwalan mata pelajaran sekolah yang dapat diproses tidak lebih lama dari 10 menit. Administrator hanya akan memasukkan kondisi dari masing-masing guru yang akan mengajar baik itu dalam 1 minggu seorang guru dapat mengajar berapa jam, selain itu dapat juga melakukan pemesanan tempat dan penempatan hari libur masing-masing guru dalam 1 minggu masa mengajar. Setelah semua kondisi dimasukkan, sistem akan memproses semua data tersebut sehingga menghasilkan jadwal yang optimal dan dapat langsung dipakai karena sistem akan mendeteksi sehingga tidak akan ada jadwal yang bertumpukan satu dengan yang lainnya.